Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, sebuah proses pencarian tuhan

Barang siapa mengenal akan dirinya maka mengenal pula ia akan Tuhannya, kira-kira begitulah terjemahan dari kalimat berbahasa arab pada judul posting ini.
kemalasan menjalankan segala kewajiban sebagai muslim bisa jadi disebabkan oleh ketidakmengenalannya kepada tuhan, siapa dan apa sebenarnya tuhan itu??? Sejauh apa sebenarnya manfaat yang ditimbulkan jika kita benar2 menjalankan perintah tuhan dan mengenal tuhan, apakah kemudian kita akan diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan nyata ini atau jangan-jangan menjalankan perintah tuhan itu hanya akan terasa manfaatnya setelah kita mati dan berada di semesta yang disebut akhirat, Lalu apakah akhirat itu benar-benar ada, jangan-jangan suatu hari nanti setelah kita mati, kita akan kembali terlahir dan menjalani hidup baru didunia ini, reinkarnasi dan menjalani hidup baru dengan ingatan yang baru…


mungkin pertanyaan ini tidak mudah di jawab dan kalaupun ada yang mencoba menjawab maka mereka akan menjawab secara irasional dan mengembalikannya pada konteks ketuhanan yang dihiasi dengan segala kerahasiaan untuk menutupi ketidaktahuannya.

Saya tidak bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas tapi setidaknya saya mencoba untuk sedikit memaparkan secara logis tentang siapa itu tuhan dan apa manfaatnya mengenal tuhan untuk kehidupan didunia yang nyata ini, dunia dimana kita menginginkan kebahagiaan, kekayaan, kesenangan, dan kesuksesan.

Secara teoritis landasan berfikir saya untuk mengenal tuhan adalah Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, Barang siapa mengenal akan dirinya maka mengenal pula ia akan Tuhannya, mengapa harus mengenal diri sendiri ??? banyak yang menyebutkan untuk mengenal diri sendiri harus mati sebelum mati atau dalam ajaran tasawuf dikenal dengan istilah antalmautu qabal maut, terus terang walaupun saya memahami makna mati sebelum mati tapi saya tidak sepakat untuk menjalankannya karena dalam konsep mati sebelum mati kita harus memadamkan segala hal yang berhubungan dengan dunia, termasuk didalamnya nafsu, keinginan, harapan dan ambisi yang identik dengan kepentingan dunia (kekayaan, kesenangan, dan kesuksesan) padahal tuhan menciptakan kita dengan sempurna dan salah satu kesempurnaan itu adalah nafsu, kita bukan mahluk akhirat, kita bukan malaikat juga bukan setan, identitas kita jelas “MANUSIA” jadi gak usah nyembunyi’in identitas dong… mari menjadi manusia seutuhnya dengan nafsu dan ambisi tanpa harus mengasingkan diri dari tuhan.

Kembali kepada Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu
Para ilmuwan banyak yang berusaha menyingkap rahasia mahluk bernama Manusia, hingga munculah cabang ilmu hipnoterapy yang mengandalkan kekuatan fikiran dan perasaan, kemudian muncul buku the secret-nya Rhonda byrne yang berisi tentang kekuatan fikiran untuk mewujudkan segala keinginan dan harapan, terakhir muncul pula fenomena kekuatan-kekuatan supranatural yang mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat diterjemahkan oleh akal sehat. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa segala kekuatan dan “kehebatan” itu tidak dimiliki oleh semua orang, jawabnya tentu karena kita tidak mengenal diri sendiri, andai saja kita mengenal diri sendiri maka kita dapat mengoptimalkan segala “kehebatan” yang tersimpan rapi dalam diri kita. Lalu apa hubungannya dengan tuhan??? Kelak, orang-orang yang telah mampu mengoptimalkan kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya maka dengan sendirinya ia akan sampai pada pengakuan bahwa ada kekuatan maha dahsyat yang telah menciptakannya. Siapa yang telah menciptakan kekuatan itu??? Jawabnya adalah Tuhan, ihwal apa dan siapa tuhan-nya, semua bergantung pada keyakinan masing-masing.. nasrani akan menyebut tuhannya Yesus Kristus, Islam menyebutnya Allah, budha, hindu, konghutcu memiliki sebutan sendiri dan itu sah-sah saja, siapa bertuhan kepada siapa adalah hak yang dilindungi undang-undang, yang terpenting adalah memiliki Tuhan.

Saya sebagai muslim lebih nyaman bertuhan kepada “Allah” karena orang tua dan seluruh saudara saya juga bertuhan kepada Allah, oleh karena itu saya bersyukur dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang bertuhan kepada Allah karena ternyata saat saya dewasa saya sepakat bahwa Allah adalah Tuhan saya, andai saya tidak sepakat pasti saya sudah berganti tuhan, terus terang sebelum saya dewasa saya tidak mengenal Allah, saya hanya menjalankan apa yang diajarkan oleh orang tua dan guru-guru ngaji di kampung saya.  tapi dalam hal meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah saya memiliki cara sendiri, dan untuk menyembahnya saya mengikuti tuntunan utusan allah bernama Muhammad karena tuntunan beliau sangat realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi, contoh tuntunan yang realistis dan bermanfaat untuk kepentingan duniawi itu adalah syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Syahadat sebagai kesaksian manusia yang memiliki tuhan dan kesaksian bahwa ada utusan tuhan untuk dunia, sholat sebagai proses interaksi manusia dengan tuhannya, puasa sebagai pengingat bahwa manusia itu mahluk duniawi (tanpa makan dan minum manusia lemah), zakat sebagai himbauan untuk saling berbagi, dan naik haji sebagai perintah untuk melihat bukti kebesaran dan kekuasaan allah secara nyata, saat naik haji kita akan diperlihatkan betapa banyaknya orang yang menyembah Allah oleh karena itu tidak adalagi yang patut di khawatirkan atas keyakinan kita.

Oke kalau anda masih tertarik untuk terus membaca tulisan saya, saya akan jelaskan cara saya meyakini kebesaran dan kekuasaan allah, tapi tidak sekarang…. karena saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya demi mewujudkan harapan dan mimpi duniawi yang terlanjut menggelayut di angan saya.
Silahkan berkunjung ke blog ini pada lain waktu dan kesempatan J

0 komentar:

Post a Comment

berkomentar adalah salah satu tips SEO yang sangat dianjurkan sebagai upaya mendapatkan backlink, menambah traffic dan meningkatkan pagerank blog anda, silahkan berkomentar dengan jujur sopan dan beretika.trims